Kabarminang — Status tanggap darurat bencana di Padang Pariaman memang telah resmi berakhir. Namun, ironi justru mencuat di lapangan. Saat puluhan keluarga korban banjir dan longsor di Nagari Anduriang, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam, mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, bantuan sembako masih menumpuk di rumah dinas Bupati Padang Pariaman.
Persoalan itu memantik pertanyaan publik, mengapa bantuan masih tersimpan ketika masyarakat terdampak justru mengaku tidak lagi menerima distribusi sejak masa tanggap darurat dicabut?
Sejumlah sumber menyebut bahwa stok bantuan logistik berupa beras, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya masih terlihat tersimpan di kompleks rumah dinas bupati meskipun fase tanggap darurat telah selesai beberapa waktu lalu.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan situasi warga di Korong Sipinang Sipisang, Nagari Anduriang. Mereka masih bertahan di hunian sementara dengan persediaan pangan yang semakin menipis.
Salah seorang warga terdampak menyebut bahwa bantuan bahan pokok berhenti setelah status darurat dicabut.
“Waktu awal bencana bantuan banyak. Tapi, setelah tanggap darurat selesai, hampir tidak ada lagi. Sekarang kami beli sendiri, padahal sawah sudah hilang,” ujar Herman (58), korban terdampak banjir, pada Sabtu (28/2).
Berdasarkan data nagari, 86 kepala keluarga kehilangan rumah dan sumber mata pencarian akibat bencana tersebut.
Kepala Dinas Sosial Padang Pariaman, Siska Primadona, tidak membantah adanya stok bantuan yang masih tersimpan di rumah dinas bupati. Ia menjelaskan bahwa logistik tersebut merupakan bagian dari sisa penanganan bencana yang masih dalam proses distribusi.















