Kabarminang – Bulan ramadan selalu membawa semarak ibadah malam. Salah satu yang paling dinanti adalah salat Tarawih. Meski terlihat sederhana, Tarawih menyimpan banyak pertanyaan soal jumlah rakaat, cara salat, dan praktik berjamaah. Panduan berdasarkan sunnah Nabi saw membantu umat melaksanakannya dengan benar.
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dikutip pada Minggu (22/2), salat Tarawih pada dasarnya adalah ibadah sunnah, bukan wajib. Hadis dari ‘Aisyah ra menjelaskan, Rasulullah saw pernah memimpin salat malam di masjid selama ramadan, namun tidak menuntut jamaah untuk ikut setiap malam:
“Aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku keluar menemui kalian kecuali karena aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian.” (HR. al-Bukhari)
Hal ini ditegaskan pula melalui hadis Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw menganjurkan qiyam Ramadan tanpa memerintahkannya dengan keras, dan siapa pun yang melaksanakannya dengan niat iman dan mengharap pahala, dosa-dosanya akan diampuni (HR. Abu Dawud).
Tarawih Berjamaah: Boleh, Tapi Tidak Wajib Setiap Malam
Hadis Abu Dzar ra memberikan contoh praktik Rasulullah saw yang tidak menjadikan Tarawih berjamaah sebagai rutinitas harian. Bahkan, salat malam berjamaah dilakukan hanya beberapa malam terakhir Ramadan, namun tetap dicatat pahalanya bagi jamaah yang mengikuti imam sampai selesai. Ini menegaskan bahwa Tarawih berjamaah dianjurkan, tetapi fleksibel dalam pelaksanaannya.
Jumlah Rakaat Tarawih dan Witir
Satu hal yang sering menjadi perdebatan adalah jumlah rakaat Tarawih. Menurut ‘Aisyah ra, Nabi saw tidak pernah menambah jumlah salat malamnya lebih dari 11 rakaat termasuk witir (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ini menjadi acuan bagi umat Islam dalam menunaikan Tarawih sesuai sunnah Nabi.
Waktu Terbaik Tarawih
Tarawih paling afdhal dikerjakan pada larut malam, menjelang sepertiga malam terakhir. Rasulullah saw bahkan keluar ke masjid pada waktu larut malam untuk salat berjamaah dengan sahabat, mendekati waktu sahur. Meski demikian, Tarawih juga boleh dikerjakan lebih awal setelah salat Isya, terutama untuk memanfaatkan keutamaan berjamaah di masjid.
Dengan pemahaman ini, umat Islam dapat menjalankan Tarawih dengan niat yang tepat, mengikuti sunnah Nabi, dan meraih pahala yang dijanjikan, tanpa merasa terbebani oleh kewajiban yang sebenarnya tidak ada.
















