Kabarminang — Virus nipah kembali menjadi perhatian publik seiring kemunculannya di India. Virus ini berpotensi sangat mematikan dengan tingkat fatalitas mencapai 70 persen, termasuk melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar M. Biomed, mengatakan virus nipah merupakan salah satu ancaman yang perlu mendapat perhatian serius.
“Virus nipah saat ini telah menyebar di India dan beberapa negara di Asia. Virus ini dapat ditularkan melalui buah bekas gigitan kelelawar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, kita khawatirkan jika sudah ada perpindahan dari manusia ke manusia, hal ini bisa membludak dengan tingkat kematian 40 sampai 70 persen,” ujarnya saat ditemui Sumbarkita di Convention Hall Kampus UNAND Limau Manis Padang, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, untuk mengantisipasi ancaman tersebut, BPOM menyiapkan sejumlah langkah. Langkah pertama adalah menyiapkan dan mempermudah proses keluarnya obat-obat antivirus, khususnya antivirus untuk virus yang berpotensi menyebabkan pandemik.
Kemudian, BPOM meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar pemahaman terkait pencegahan penyakit menular semakin baik.
Ia menyebut, BPOM mendorong peran pemerintah yang berwenang di wilayah perbatasan, termasuk petugas karantina, khususnya petugas kesehatan. Upaya ini ditujukan untuk mengantisipasi agar penderita virus nipah tidak masuk ke Indonesia.
“Kita harus memulai dengan mencegahnya sebelum terkena,” kata Taruna.
Selain itu, Taruna juga berharap para ilmuwan dapat mencari jalan dalam pengembangan vaksin virus nipah.
“Hingga saat ini, vaksin untuk virus tersebut belum tersedia,” imbuhnya.















