Kabarminang – Banjir yang berulang di Sumatera Barat bukan sekadar peristiwa alam. Ia meninggalkan jejak panjang tentang perubahan bentang alam, relasi manusia dengan lingkungannya, serta cara hidup warga yang terpaksa beradaptasi. Dari realitas itulah pameran seni rupa kolektif Silotigo hadir, mengajak publik membaca krisis ekologis melalui bahasa visual.
Program Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10 digelar oleh Komunitas Seni Nan Tumpah di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai, Kabupaten Padang Pariaman, pada 7–14 Februari 2026. Agenda utamanya berupa pameran bertajuk “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan”, yang menjadi presentasi tunggal pertama Silotigo.
KRNT merupakan program rutin Nan Tumpah sejak 2017 sebagai ruang dialog antara seniman dan masyarakat. Pada edisi ke-10 ini, seni diposisikan bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai medium untuk membaca pengalaman sosial warga yang hidup di wilayah rawan banjir.
Silotigo beranggotakan Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil. Ketiganya menjalani residensi selama satu bulan di lingkungan sekretariat Nan Tumpah, berinteraksi dengan warga, serta memproduksi karya menggunakan material sisa dan limbah yang ditemukan di sekitar lokasi.
Kurator pameran, Mahatma Muhammad, menyebut tema pameran lahir sebagai respons atas kondisi ekologis Sumatera Barat yang kerap dilanda banjir.
“Air yang menggenangi kawasan tidak hanya dimaknai sebagai sesuatu yang menghanyutkan material. Banjir juga mencatat dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan, dan tata ruang yang tidak mempertimbangkan kondisi ekologis,” ujarnya, Kamis (5/2).
Ia menambahkan, proses berkarya dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Para seniman tidak memosisikan diri sebagai pihak yang datang membawa solusi, melainkan membaca situasi sosial dan menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan warga sekitar.
“Ketiganya hadir sebagai tamu yang menyatu dengan lingkungan, bukan sebagai subjek yang menggurui,” katanya.
















