Kabarminang — Puluhan siswa SD Negeri 05 Batang Anai, Padang Pariaman terpaksa melanjutkan proses belajar mengajar di halaman sekolah karena bangunan sekolah mereka roboh akibat banjir bandang dan longsor yang melanda daerah tersebut beberapa waktu lalu.
Dari kejauhan, beberapa siswa berdiri mematung, beberapa lainnya juga terlihat bercengkerama dengan temannya. Di halaman sekolah tersebut tidak ada papan tulis permanen, tidak ada kursi panjang.
“Kalau melihat ke sini, rasanya seperti tidak percaya sekolah kami sudah hancur. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Semua habis diseret arus. Air setinggi dua meter menerjang masuk, merobohkan tujuh ruang kelas, ruang guru, hingga ruang kepala sekolah. Perabotan, buku, komputer, hingga dokumen penting tenggelam, menyisakan bau lumpur dan kepedihan yang bercampur jadi satu,” kata Nelvi Harlina Sari, salah satu guru di sekolah tersebut.
Ia menyebut, sejak bangunan ambruk, proses belajar mengajar terhenti total. Sebagai gantinya, halaman sekolah berubah menjadi tempat belajar, pemulihan sekaligus lokasi trauma healing yang diberikan oleh beberapa personel Polres Padang Pariaman.
Plt Kepala Sekolah, Lisa Rifendi, mengaku sempat berada pada titik paling buntu hingga 8 Desember 2025.
“Saya bingung harus bagaimana. Hari Senin anak-anak sudah harus ujian, tapi ruang kelas sudah tidak ada,” ujarnya, Jumat (5/11).
Kendati demikian, pihaknya berusaha mencari tempat sementara untuk pelaksanaan ujian sekolah, tetapi semua lokasi sudah digunakan warga yang juga terkena dampak bencana. Hingga akhirnya pada Kamis (4/12) dirinya menemui Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir.
“Begitu saya ceritakan kondisinya, Kapolres langsung bilang akan dibangun tenda darurat di sekolah, dan saat ini tenda tersebut sudah dibangun,” ujarnya.
















