Kabarminang – Penulis Novel Negeri 5 Menara sekaligus sastrawan nasional, Ahmad Fuadi, menilai Sumatera Barat memiliki modal besar untuk melahirkan kembali generasi penulis hebat. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari internal penulis itu sendiri, terutama soal disiplin, konsistensi, dan kemampuan mengasah keterampilan menulis di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hal itu itu disampaikannya menjelang Talk show Manajemen Talenta Nasional (MTN) Sastra di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) pada Senin (8/9/2025). MTN Sastara ini merupakan program inisiatif Kementerian Kebudayaan RI untuk menemukan, membina, dan mempromosikan 100 penulis muda berbakat di Sumatera Barat.
“Ranah Minang ini sebenarnya punya modal kuat. Secara historis, banyak pujangga besar lahir dari sini. Secara kultural, kita terbiasa dengan sastra lisan dan bercerita (maota). Ditambah lagi, bahasa Minang yang dekat dengan bahasa Melayu ikut membentuk fondasi bahasa Indonesia,” katanya.
Ia mengatakan, keberhasilan para sastrawan Minang masa lalu seperti Chairil Anwar, Hamka, Marah Rusli, dan AA Navis bukanlah sebuah kebetulan. Kemudian untuk mengulang kejayaan itu, generasi muda Sumatera Barat perlu memupuk kembali etos menulis dan semangat berkarya.
Ia melanjutkan, berbeda dengan wartawan yang selalu ditagih redaktur atau mahasiswa yang ditagih dosen, penulis sastra tidak memiliki batas waktu dan target eksternal.
“Menulis itu proyek pribadi. Tidak ada yang menagih. Jadi, tantangan sebenarnya ada pada diri sendiri, bagaimana menjaga disiplin dan konsistensi menulis,” jelasnya.
Menurutnya, penulis muda Sumatera Barat harus membangun rutinitas dan pola kerja agar produktif menghasilkan karya. Fuadi juga menekankan pentingnya membaca secara luas sebagai modal utama dalam menulis.
“Baca banyak karya, belajar dari mana saja, bisa lewat buku, YouTube, workshop, atau diskusi. Semakin banyak referensi, semakin kaya pula tulisan,” tambahnya.
















