“Rakerda dan Bimtek ini menjadi ruang konsolidasi, silaturahmi, dan evaluasi. Kita harus satu visi, satu misi, satu komando, dan satu perjuangan ke depan,” tutur Mulyadi.
Mulyadi menyinggung tantangan politik yang makin dinamis dan menuntut Demokrat untuk beradaptasi. Ia mengutip pepatah Minangkabau, “Sekali air besar, sekali tepian berubah”, yang menggambarkan pentingnya kesiapan Demokrat dalam menghadapi perubahan zaman.
“Rakerda adalah ikhtiar kolektif untuk meneguhkan perjuangan kita, bukan hanya untuk Demokrat, tapi juga untuk masyarakat Sumatera Barat. Kita patut bersyukur ranah Minang adalah tanah subur tempat lahirnya tokoh-tokoh bangsa, termasuk Bung Hatta,” ujarnya.
Mulyadi juga mengingatkan bahwa perjuangan politik tidak semata-mata ditentukan oleh pusat kekuasaan. Dengan mengutip ucapan Bung Hatta, ia mengatakan bahwa perjuangan politik juga datang dari lilin-lilin kecil di kampung-kampung.
“Artinya, peran kader di daerah itu sama pentingnya. Setiap kursi yang diraih Demokrat bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kesejahteraan rakyat,” ucapnya.
Mulyadi pun mendorong semua DPC dan anggota DPRD Demokrat untuk bekerja lebih masif di daerah masing-masing.
“Di pemilu 2029 kita tidak boleh hanya jadi penonton melihat keberhasilan partai lain. Kita harus siap menjadi pemain utama dan memenangkan pertarungan politik,” katanya penuh semangat.
Sementara itu, Sekjen Partai Demokrat, Herman Khaeron, menegaskan pentingnya peran anggota DPRD sebagai garda terdepan partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Menurutnya, keberhasilan Demokrat akan sangat ditentukan oleh kedekatan kader dengan masyarakat dan konstituen di daerah pemilihan masing-masing.