Rudy mengatakan Aulya Zul Fadilah, siswi kelas VIII.7 asal Desa Bato, Kecamatan Pariaman Timur, masih dirawat di RSUD Dr. Sadikin Kota Pariaman. Aulya mengalami keluhan sesak, mual, dan sakit perut. Kemudian, Fajar Maulana, siswa kelas VII.3 yang berdomisili di Kelurahan Jawi-Jawi 2, juga masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Sebelumnya, jumlah siswa MTsN 1 Pauh yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG tercatat mencapai 123 orang. Jumlah tersebut merupakan pembaruan dari data sebelumnya yang mencatat 86 siswa mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG.
“Update, hari ini 123 siswa yang diduga keracunan setelah mengonsumsi MBG. Ini update terakhir kita pada tadi malam,” kata Rudy kepada Sumbarkita, Selasa (15/9/2026).
Dari 123 siswa tersebut, sebanyak 65 orang dibawa ke RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, sementara 58 siswa lainnya mendapat penanganan di RSUD Dr. Sadikin Kota Pariaman. Rudy mengatakan para siswa mengalami berbagai gejala, seperti pusing, mual, dan muntah. Sejumlah siswa sempat menjalani penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Siswa tersebut sudah berada di IGD. Tapi karena keterbatasan ruangan kita larikan ke RSUD Dr. Sadikin Kota Pariaman. Agar siswa ini cepat ditangani,” ungkapnya.
Sebagian siswa yang kondisinya mulai membaik telah diperbolehkan pulang dan dijemput oleh orang tua masing-masing.
“Yang sudah dibawa orang tua itu yang sudah mulai membaik,” tutur Rudy.
Dinas Kesehatan Kota Pariaman hingga kini masih memantau kondisi siswa yang menjalani perawatan. Keluhan kesehatan tersebut muncul setelah siswa mengonsumsi menu MBG berupa ayam goreng dengan saus lada hitam pada Senin (14/9/2026). Keluhan mulai dirasakan sekitar satu jam setelah makanan disantap.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, gatal-gatal hingga sesak napas.
Kepala MTsN 1 Kota Pariaman, Tarmizi, sebelumnya mengatakan sekitar 400 siswa telah mengonsumsi menu tersebut. Dari pendataan sementara, sekitar 100 siswa mengalami keluhan kesehatan.
“Setelah kita data, puluhan siswa terdampak dari 400 orang yang telah mengonsumsi,” ujarnya.
Para siswa yang mengalami keluhan awalnya mendapat penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sebagian kemudian dibawa ke RSUD Prof. H. Muhammad Yamin Pariaman untuk mendapatkan penanganan medis.
Tarmizi mengatakan MTsN 1 Kota Pariaman telah menerima program MBG selama sekitar enam bulan. Program tersebut diperuntukkan bagi sekitar 800 siswa dengan makanan yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Duta Cahaya Bangsa.
Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, mengatakan pemerintah masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan tersebut. Sampel makanan yang dikonsumsi siswa juga telah diambil untuk diperiksa.
“Dilihat dari dampaknya cukup banyak, seperti alergi kulit, sesak napas. Sampai saat ini kita belum tahu penyebabnya apa,” kata Mulyadi.
Pemko Pariaman kemudian memutuskan menghentikan sementara pelaksanaan MBG hingga proses investigasi selesai. Penghentian sementara dilakukan sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Ini harus ada tindakan lanjut agar kejadian ini tidak terulang. Kegiatan MBG ini akan dihentikan sementara sampai investigasi selesai,” ujarnya.
Mulyadi menyebut kejadian tersebut merupakan kasus pertama selama program MBG berjalan di Kota Pariaman. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan untuk memastikan apakah menu MBG tersebut berkaitan dengan keluhan kesehatan yang dialami para siswa.



















