Upaya itu membuat jembatan kembali dapat digunakan untuk menunjang mobilitas warga. Namun, perbaikan tersebut belum menyelesaikan persoalan infrastruktur secara menyeluruh karena konstruksi jembatan yang sederhana tidak mampu bertahan lama menghadapi beban kendaraan yang melintas setiap hari.
“Dengan swadaya tersebut akhirnya jembatan dapat digunakan lagi meskipun tidak tahan begitu lama,” kata Didi.
Sekretaris Nagari Muara Tais Koto Gadang, Ujang, yang mengoordinasikan pengumpulan dana, mencatat total sumbangan masyarakat mencapai Rp7.900.000. Jumlah tersebut tercatat dalam dokumen berjudul Sumbangan Penggantian Lantai Jembatan Lubuk Linjuang 24 Meter Tahun 2025, yang memuat daftar penyumbang untuk perbaikan jembatan di ruas jalan Sibintayan–Kubu Baru.
Dalam catatan tersebut, sejumlah penyumbang memberikan bantuan dalam jumlah relatif besar. Syamsir selaku wali nagari menyumbangkan Rp3 juta secara tunai, sedangkan perwakilan masyarakat Jorong Soma memberikan Rp2 juta.
Sumbangan juga berasal dari warga, perantau, tokoh masyarakat, hingga unsur legislatif. Di antaranya, Ali Muda dari DPRD Provinsi Sumatera Barat menyumbangkan Rp200 ribu dan Haris Suddin dari DPRD Kabupaten Pasaman memberikan Rp500 ribu. Sejumlah warga lainnya turut menyumbang mulai dari Rp50 ribu hingga Rp500 ribu, baik secara tunai maupun melalui transfer bank.
Memasuki Oktober 2026, Didi mengatakan, lantai jembatan yang diperbaiki setahun sebelumnya mulai kembali rusak akibat beban kendaraan yang melintas setiap hari. Kondisi tersebut membuat warga khawatir akses transportasi mereka kembali terganggu jika tidak segera ditangani.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk membangun jembatan permanen. Dengan begitu, akses penghubung Jorong Kubu Baru dan Jorong Soma dapat digunakan secara lebih aman dan berkelanjutan tanpa harus terus bergantung pada sumbangan sukarela masyarakat.

















