Menurut SD, keterangan tersebut tidak benar. SD turut membantah pernyataan R mengenai adanya arahan kepala sekolah agar dirinya bersama anak-anaknya meminta maaf kepada R. Menurut SD, kepala sekolah tidak pernah memberikan arahan seperti itu.
“Itu hanya karangan R saja,” katanya.
SD mengatakan dirinya meminta anak R keluar dari kelas karena ingin mendapatkan keadilan. Ia menilai apabila anaknya tidak diperbolehkan mengikuti pembelajaran, perlakuan serupa tidak semestinya hanya diberikan kepada anaknya.
Menurut SD, persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan pemberian sanksi kepada siswa, tetapi juga menyangkut kesempatan anaknya untuk mengikuti pembelajaran.
Versi Berbeda dari Wali Kelas VI
Sebelumnya, R memberikan penjelasan berbeda mengenai awal persoalan tersebut. R mengatakan anaknya diminta keluar dari kelas tanpa melakukan kesalahan. Ia menduga tindakan itu berkaitan dengan sanksi yang sebelumnya diberikan kepada anak SD.
Menurut R, anak SD sebelumnya mendapat sanksi karena sejumlah persoalan, seperti tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), terlambat mengikuti kegiatan sekolah, serta diduga berkata kasar dan kotor kepada guru.
R mengatakan persoalan bermula pada Kamis (27/8/2026), ketika dirinya bertugas piket dan mendapati anak SD yang duduk di kelas III sedang makan saat kegiatan baris hendak dimulai.
“Saya minta dia mempercepat makannya atau melanjutkan makan setelah berbaris. Setelah itu saya pergi memeriksa yang lain,” kata R.
Menurut R, siswa tersebut kemudian datang terlambat mengikuti apel bersama enam temannya. Ketujuh siswa itu kemudian diminta memungut sampah sebagai sanksi. Namun, R menyebut anak SD tidak mau menjalankan sanksi tersebut dan justru menendang ember sembari mengeluarkan kata-kata kasar.
















