Kabarminang — Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh menyatakan kesiapan mempercepat pembenahan sistem pengelolaan sampah. Hal itu menyusul arahan pemerintah pusat yang menargetkan operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di seluruh Indonesia berakhir secara teknis pada 2028, termasuk TPA Regional Payakumbuh di Padang Karambia.
Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh, Rida Ananda, mengatakan pemerintah daerah akan segera menyusun dan mengesahkan Rencana Induk Pengelolaan Sampah sebagai langkah strategis menuju pengelolaan sampah secara menyeluruh.
“Kami berkomitmen menyusun dan mengesahkan Rencana Induk Pengelolaan Sampah sebagai dasar percepatan penyelesaian persoalan sampah menuju 100 persen sampah terkelola pada 2029,” kata Rida didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Payakumbuh, Delni Putra.
Menurutnya, Pemko Payakumbuh akan mendorong keterlibatan masyarakat melalui pemilahan sampah sejak dari rumah dan lingkungan masing-masing secara terstruktur, sistematis, dan masif.
Selain itu, pemerintah kota juga akan memastikan seluruh kawasan komersial seperti hotel, restoran, dan kafe memiliki fasilitas pengolahan sampah serta mengelolanya secara mandiri atau bekerja sama dengan pihak lain.
Pemko Payakumbuh juga berencana memperkuat komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah berkelanjutan.
Rida menjelaskan, arah kebijakan daerah difokuskan pada prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan ekonomi sirkular, mulai dari pengurangan sampah di sumber, optimalisasi pengolahan di tingkat menengah, hingga pengelolaan akhir sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
“Kami akan melengkapi dan menjalankan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengelolaan sampah secara konsisten,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemko Payakumbuh turut menggandeng berbagai pihak dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) guna mendorong terciptanya lingkungan yang bersih dan tertata.
“Pengelolaan sampah bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal perubahan perilaku. Kami ingin gerakan ini menjadi budaya bersama,” imbuhnya.















