Kabarminang – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tidak hanya menjadi lokasi pembuangan sampah, tetapi juga sumber penghidupan bagi sejumlah warga yang menggantungkan hidup sebagai pemulung.
Salah seorang pemulung, Bujang (50), warga Kelurahan Balai Gadang, mengaku telah menekuni pekerjaan tersebut selama 15 tahun terakhir demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Dulu saya bekerja di DLH dari tahun 2001 sampai 2011. Tapi gaji saya waktu itu hanya Rp400 ribu per bulan, tidak cukup untuk kebutuhan hidup,” kata Bujang saat ditemui Sumbarkita, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan, dari aktivitas memulung botol plastik dan gelas plastik, dirinya bisa memperoleh penghasilan minimal Rp100 ribu per hari. Pendapatan tersebut didapatkan dengan mengumpulkan dua karung botol dan gelas plastik, dengan berat masing-masing karung berkisar antara 45 hingga 50 kilogram.
Selain Bujang, warga Kelurahan Balai Gadang lainnya, Buyuang, juga menggantungkan penghasilan dari aktivitas memulung selama lima tahun terakhir. Ia mengatakan, aktivitas memulung biasanya dilakukan sejak pagi hingga siang hari, bahkan terkadang berlanjut hingga sore, tergantung banyaknya botol dan gelas plastik yang diperoleh.
“Kalau sudah terkumpul, botol dan gelas plastik dibawa pulang pakai motor atau becak, lalu dibersihkan,” ujar Buyuang.
Menurut Buyuang, proses pembersihan botol dan gelas plastik, termasuk pada bagian penutupnya, sangat memengaruhi harga jual. Jika penutup tidak dibersihkan, harga jual hanya sekitar Rp1.700 per kilogram. Namun, jika dibersihkan dengan baik, harganya bisa mencapai Rp2.500 per kilogram.
Pantauan di lokasi menunjukkan hamparan sampah dengan berbagai jenis material menutupi area TPA. Gundukan sampah tersebut terdiri dari sampah plastik, sampah dapur, kaleng susu, kaleng minuman, hingga kayu-kayu sisa bencana banjir bandang.
















