“Sesampainya di Belanda, saya bekerja sebagai dokter yang menangani pasien lanjut usia, sedangkan istri saya bekerja sebagai dokter spesialis ortopedi,” ujarnya.
Meski telah berprofesi sebagai dokter, Irman mengaku tetap bekerja sambilan di sebuah restoran. Menurutnya, pekerjaan itu bukan semata-mata untuk menambah penghasilan, melainkan menjadi tempat belajar memahami dunia kuliner dan pengelolaan restoran.
“Saya belajar banyak dari bekerja di restoran, mulai dari pelayanan, dapur, sampai bagaimana mengelola usaha,” katanya.
Irman mengungkapkan jiwa berdagang sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa membantu kedua orang tuanya berjualan sepatu dengan berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lain di Pasaman. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bekal berharga ketika memutuskan membuka usaha sendiri di Belanda.
Kemudian, perjalanan hidupnya berubah pada 2012 ketika mengikuti sebuah festival kuliner di Belanda. Ia memilih memasak rendang dan berhasil meraih juara pertama, mengungguli 24 peserta lainnya.
“Setelah menang festival itu, saya semakin yakin membuka usaha kuliner Indonesia di sini. Dari situlah Warung Anisah lahir,” ujarnya.
Asal Mula Nama Warung Anisah
Irman mengatakan, nama Warung Anisah diambil dari nama putrinya yang saat itu baru lahir. Bersamaan dengan itu, sang istri memutuskan berhenti dari profesinya sebagai dokter agar dapat merawat anak mereka secara langsung tanpa bantuan pengasuh.















