“Kombinasi topografi terjal, litologi rapuh, dan keberadaan struktur aktif menjadikan kawasan ini sensitif terhadap potensi tanah bergerak.”
Ia mengimbau pemerintah daerah untuk memasang jaring pengaman, perkuatan lereng, atau sistem drainase air permukaan untuk mengurangi tekanan air. Kemudian penanaman vegetasi berakar kuat dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kohesi tanah serta mengurangi infiltrasi air.
“Kepada masyarakat diminta menghindari aktivitas di sekitar bibir tebing dan daerah rawan terutama pada saat hujan lebat atau pascagempa hingga menyusun jalur evakuasi,” katanya.
Sebelumnya, Kalaksa BPBD Bukittinggi, Zulhendri, mengatakan sejauh ini ada 68 orang dievakuasi dengan total 11 kepala keluarga (KK) yang berada di bibir Ngarai Sianok.
“Terjadi pergeseran atau pergerakan akibat tebing tersebut retak. Hingga Senin (24/11) malam tadi ada 68 orang dengan 11 KK dievakuasi ke aula kantor KPPN Belakang Balok,” katanya.














