Kabarminang – Kasus ED, ayah di Padang Pariaman yang ditahan usai membunuh terduga pelaku pencabulan anaknya, ikut menyeret dampak berat bagi keluarganya, terutama sang istri, Marlina, yang kini menjadi pencari nafkah utama.
Pagi itu, Marlina duduk bersila di teras rumahnya yang sempit di Nagari Gasan Gadang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman. Tangannya menggenggam sebilah parang kecil, meraut batang lidi satu per satu untuk dijadikan sapu. Pekerjaan sederhana itu kini menjadi satu-satunya penopang hidup keluarga sejak ED ditahan Polres Pariaman.
ED ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan setelah membunuh F, pria yang mencabuli anak mereka.
Marlina mengaku, sejak kejadian itu ia menanggung seluruh beban rumah tangga seorang diri. Setiap hari ia bangun sebelum subuh untuk memasak seadanya. Setelah anak-anak berangkat sekolah, ia mengumpulkan batang kelapa kering yang dibeli murah dari tetangga, lalu merautnya selama berjam-jam hingga menjadi lidi.
Upahnya tak seberapa. Satu ikat dihargai beberapa ribu rupiah. Sekarang, pekerjaan itu menjadi satu-satunya penopang hidup.
“Kalau tidak diraut, anak-anak makan apa,” ujar Marlina lirih saat ditemui, Jumat (13/2/2026).
Tangannya kini penuh kapalan, bahkan tak jarang terluka. Dalam sehari, Marlina hanya mampu menyelesaikan beberapa ikat lidi.
“Kadang cuma cukup buat makan hari itu saja,” katanya.
Selain tekanan ekonomi, Marlina juga harus menghadapi beban sosial. Ia mengaku memilih lebih banyak diam dan jarang keluar rumah lantaran takut mendengar omongan orang, terlebih anak-anaknya ikut mendengar bisik-bisik tetangga.
“Anak saya korban, bapaknya masuk penjara. Rasanya habis semuanya,” ucapnya, menunduk.
















