Pembelajaran tersebut dipandu langsung oleh Syekh Mahmoud M. Ismail dari Palestina. Setelah dinyatakan lulus tahsin, barulah Caca memulai program tahfidz.
“Caca berhasil menyelesaikan pembelajaran tahsin selama satu bulan. Bulan Oktober 2025 sudah mulai menghafal Al-Qur’an,” katanya.
Caca mengawali hafalannya dari juz 25 hingga juz 30. Setelah menyelesaikan bagian tersebut, ia melanjutkan hafalan dari juz 1 hingga juz 25. Proses tersebut dijalaninya dengan setoran hafalan setiap hari. Waktu istirahat dan bermain pun kerap dimanfaatkannya untuk mengulang dan menambah hafalan.
“Setoran hafalan setiap hari. Caca pribadi selalu menggunakan waktu istirahat atau waktu main untuk melanjutkan hafalan Caca,” ujarnya.
Semangatnya juga semakin kuat karena mendapatkan bimbingan dan motivasi dari para pembimbing selama berada di pesantren.
“Caca kembali semangat karena saat di pondok pesantren sekarang selalu dibimbing, disemangati oleh pembimbing-pembimbing,” katanya.
Ingin Hafalan Menjadi Ikhtiar untuk Orang Tua
Bagi Caca, menghafal 30 juz bukan semata-mata untuk mengejar sebuah pencapaian. Keinginan tersebut telah tumbuh sejak kecil, salah satunya setelah melihat orang-orang yang hafal 30 juz melalui media sosial. Seiring menjalani prosesnya, keinginan itu kemudian memiliki makna yang lebih dalam. Caca ingin hafalan Al-Qur’an yang dimilikinya menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk kedua orang tua.
“Yang selalu ingin Caca wujudkan adalah menjadi fadilah syafaat dari tahfidz 30 juz untuk kedua orang tua Caca,” ujarnya.
















