Kabarminang – Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Nagari Anduriang, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, beberapa bulan belakangan masih menyisakan luka mendalam bagi warga. Di Korong Sipinang Sipisang, puluhan kepala keluarga kini kehilangan sumber penghidupan setelah sawah mereka hilang tersapu dan berubah menjadi batang air aliran sungai.
Ramadan Tahun Ini Terasa Pahit
Dasril (65), salah seorang kepala keluarga di Korong Sipinang Sipisang, mengaku tak pernah membayangkan sawah yang selama puluhan tahun menjadi penopang hidup keluarganya kini lenyap tanpa jejak.
“Sawah kami habis. Biasanya bulan puasa begini sudah masa panen. Sekarang jangankan panen, tanahnya saja sudah jadi aliran sungai,” ujar Dasril kepada Sumbarkita dengan suara lirih, Rabu (25/2).
Menurutnya, sawah yang selama ini menjadi “pondompang hidup” warga tidak lagi bisa digarap. Lahan itu kini berubah menjadi alur sungai akibat terjangan banjir dan longsor. Akibatnya, warga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian kehilangan mata pencaharian secara total.
Tak hanya sawah, tiga unit rumah warga juga tertimbun material longsor dalam musibah tersebut. Hingga kini, kata Dasril, belum ada kejelasan terkait penanganan lanjutan maupun solusi relokasi bagi warga terdampak.
“Untuk makan saja sekarang susah. Dulu kami tidak pernah beli beras karena punya sawah sendiri. Sekarang terpaksa beli,” katanya.
Kondisi ekonomi yang semakin sulit memaksa para pria di kampung itu banting setir. Dasril, di usianya yang tak lagi muda, terpaksa bekerja sebagai ojek untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Terasa pahit betul puasa hari ini. Tapi kami ikhlas. Kalau kami ikhlas, kami yakin Allah mudahkan jalan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Rena, seorang ibu rumah tangga di korong tersebut. Ia mengatakan bantuan sembako yang sebelumnya sempat diterima warga kini telah lama terhenti.
















