“Hari ini kita membuka pelaksanaan Tradisi Basapa. Alhamdulillah, sebagaimana terlihat, penziarah yang datang sangat banyak, baik dari Padang Pariaman, luar daerah di Sumatera Barat, maupun dari luar provinsi. Atas nama Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peziarah. Semoga ziarah yang dilaksanakan mendapat ridha Allah SWT,” ujarnya.
Menurut John Kenedy Azis, pemerintah daerah akan terus melakukan pembenahan kawasan Kompleks Makam Syekh Burhanuddin agar semakin nyaman bagi para peziarah dan wisatawan religi.
Ia memperkirakan jumlah pengunjung pada hari pertama pelaksanaan mencapai sekitar 15 ribu hingga 20 ribu orang. Tingginya kunjungan tersebut juga berdampak pada meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
“Jika setiap pengunjung membelanjakan rata-rata Rp50 ribu saja, maka ratusan juta rupiah beredar setiap hari selama pelaksanaan Basapa. Ini menjadi peluang besar untuk menggerakkan perekonomian masyarakat,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Duski Samad, menilai Basapa merupakan perpaduan harmonis antara nilai keagamaan, budaya, dan penghormatan terhadap ulama yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.
“Saya sudah meneliti Basapa selama lebih dari dua puluh tahun. Ini adalah event budaya sekaligus tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan ulama. Tradisi ini menjadi ikon Padang Pariaman bahkan Sumatera Barat karena memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, Basapa tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Karena itu, tradisi tersebut perlu terus dijaga dan dikembangkan sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau.
Pelaksanaan Basapa 2026 berlangsung dalam dua tahapan utama, yakni Sapa Gadang dan Sapa Ketek, yang digelar selama bulan Safar. Pemerintah berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tetap menjadi sarana syiar Islam, pelestarian budaya, sekaligus penggerak wisata religi dan ekonomi masyarakat di Padang Pariaman.
















