Ia mempertanyakan besarnya anggaran tersebut dibandingkan dengan ruang lingkup pekerjaan yang disebut hanya mencakup satu lantai. Menurutnya, dasar penyusunan anggaran dan rincian pekerjaan perlu dijelaskan secara terbuka.
“Rasanya anggaran tersebut sangat fantastis mengingat pekerjaan rehab hanya satu lantai yang tidak layak dihuni, tetapi menghabiskan anggaran sangat besar,” ujarnya.
Selain mempertanyakan nilai proyek, narasumber menilai rehabilitasi tersebut belum mendesak karena ruangan yang tersedia sebelumnya disebut masih belum terisi penuh oleh pasien.
“Ruang rawat inap sekarang saja lebih dari separuh kosong. Jadi, untuk apa melakukan rehabilitasi untuk lantai tiga itu?” ucapnya.
Ia bahkan mengklaim gedung yang direhabilitasi menggunakan anggaran sekitar Rp3,7 miliar itu kini belum dimanfaatkan untuk menampung pasien.
“Sekarang yang ada gedung yang Rp3,7 miliar itu hanya terbengkalai dan tak ada yang menghuni karena tak layak,” ujarnya.
Narasumber juga menyoroti jumlah pasien yang mendapatkan pelayanan di RS Paru Sumbar. Ia memperkirakan jumlah pasien yang dilayani rumah sakit tersebut hanya sekitar 500 orang per bulan. Namun, katanya, angka itu belum disertai data statistik rumah sakit yang dapat diverifikasi secara independen.
“Di puskesmas saja pelayanan pasien bisa 500 per hari. Ini di RS Paru Sumatera Barat yang sebesar ini hanya segitu,” katanya.


















