“Lokasinya berbatasan dengan Pasaman. Puskesmas terdekat dari rumah korban adalah Puskesmas Ladang Panjang,” ucap Feri.
Di puskesmas, kata Feri, korban mendapatkan 57 jahitan luar dan dalam. Ia menyebut bahwa korban dirawat secara intensif di puskesmas akibat luka yang dideritanya.
Setelah mendapatkan informasi tentang pembacokan tersebut, kata Feri, pihaknya berkoordinasi dengan warga setempat untuk mencari pelaku. Ia menyebut bahwa warga melihat pelaku kabur dengan sepeda motor dan berada sekitar 4 atau 5 kilometer dari rumah korban. Ia lalu meminta warga untuk mengikuti pelaku.
“Pelaku berhenti mengisi BBM di kios minyak pukul 21.00 WIB. Saat itulah warga menangkap pelaku. Setelah itu, polisi datang dan menangkap pelaku, lalu membawanya ke polsek,” tutur Feri.
Berdasarkan cerita yang ia dapatkan dari keluarga korban dan keluarga pelaku, kata Feri, masalah pembacokan itu dilantarbelakangi oleh masalah harga pusako tinggi. Ia menceritakan bahwa tanah harta pusako tinggi milik keluarga itu sudah digadaikan oleh kakak tertua di keluarga itu. Hal itu sudah disepakati oleh semua anggota keluarga.
“Namun, pelaku tetap memanen sawit yang ada di dalam tanah yang sudah tergadai tersebut. Para kakak mengeluhkan dan mengadukan perilaku pelaku kepada istri korban, yang merupakan kakak pelaku. Karena itu, korban melarang pelaku untuk memanen sawit. Pelaku tidak senang terhadap korban, kemudian membacok korban,” ujarnya.













