Sementara itu, jumlah penumpang yang datang melalui BIM tercatat sebanyak 91,95 ribu orang atau meningkat 14,18 persen dibanding Mei 2026. Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan penumpang internasional yang mencapai 39,10 persen.
Di sektor transportasi laut, aktivitas muat barang perdagangan dalam negeri justru mengalami penurunan. Pada Juni 2026, total barang yang dimuat melalui pelabuhan domestik di Sumbar tercatat 214,88 ribu ton atau turun 24,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Penurunan muatan barang terjadi di seluruh pelabuhan domestik, di mana Pelabuhan Teluk Bayur mencatat 212,63 ribu ton, Pelabuhan Muaro 2,20 ribu ton, dan Pelabuhan Air Bangis 0,05 ribu ton,” terang Hasanudin.
Aktivitas pembongkaran barang domestik juga mengalami penurunan sebesar 21,74 persen menjadi 293,52 ribu ton pada Juni 2026. Namun, secara tahunan, volume bongkar barang masih tumbuh 23,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski aktivitas logistik domestik melemah, perdagangan luar negeri melalui Pelabuhan Teluk Bayur menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Volume ekspor pada Juni 2026 mencapai 377,92 ribu ton atau meningkat 48,47 persen dibanding Mei 2026.
“Aktivitas impor di Teluk Bayur bahkan tumbuh pesat hingga 301,36 persen secara bulanan, yakni dari 16,26 ribu ton pada Mei 2026 menjadi 65,25 ribu ton pada Juni 2026,” tambahnya.
Pada moda transportasi darat, jumlah penumpang kereta api lokal ekonomi di wilayah Divisi Regional 2 Sumbar mencapai 226,91 ribu orang pada Juni 2026. Angka tersebut meningkat 14,23 persen dibanding bulan sebelumnya.
Namun, angkutan barang kereta api rute Indarung–Pelabuhan Teluk Bayur mengalami penurunan. Volume barang yang diangkut tercatat 84,25 ribu ton atau turun 25,38 persen dibanding Mei 2026.
BPS Sumbar menyimpulkan bahwa mobilitas masyarakat pada pertengahan 2026 didominasi oleh penggunaan transportasi udara dan kereta api. Sementara itu, distribusi logistik melalui jalur laut domestik masih mengalami penyesuaian volume.















