“Tanpa pengendalian ketat, pengambilan air tanah bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga mengorbankan stabilitas lahan dan keselamatan manusia,” tegasnya.
Wilayah Paling Rentan Terjadinya Sinkhole
Prof Widiatmakan menjelaskan, di Indonesia, sinkhole paling mungkin terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang di kawasan karst (batu gamping) serta material vulkanik tua yang sudah lapuk. Kawasan tersebut antara lain Gunung Sewu (DIY dan Jawa Tengah), Maros–Pangkep (Sulawesi Selatan), Kendeng Utara dan Selatan (Jawa Tengah–Jawa Timur), Citatah–Padalarang (Jawa Barat), dan Sangkulirang–Mangkalihat (Kalimantan Timur).
Selain itu, daerah dengan material vulkanik tua yang mengalami pelapukan intensif, seperti Cekungan Bandung, lereng gunung api tua di Jawa bagian tengah dan barat, serta beberapa wilayah di Sumatera Barat, juga memiliki potensi terbentuknya sinkhole.
“Tanah-tanah ini umumnya berstruktur lemah, berporositas tinggi, dan miskin bahan organik, sehingga rentan mengalami amblesan ketika terjadi perubahan aliran air bawah tanah,” katanya.
Dampak Sinkhole
Ia menambahkan, sinkhole berdampak langsung pada keberlanjutan lahan, merusak infrastruktur, mengganggu drainase, dan menurunkan produktivitas pertanian. Dari sisi lingkungan, runtuhan tanah mengubah aliran air dan meningkatkan risiko pencemaran air tanah.
Sebagai langkah mitigasi, ia menekankan bahwa penanganan sinkhole tidak boleh dilakukan secara reaktif. Identifikasi dan pemetaan kerentanan lahan harus berbasis kajian ilmiah terintegrasi, didukung monitoring air tanah dan survei geofisika dangkal.
















