Kabarminang — Pekerja migran Indonesia yang disiksa majikannya di Malaysia merupakan warga Pasaman. Ia merantau ke negeri jiran itu untuk menghidupi keluarganya.
Silvia Novi Yanti (38), tetangga pekerja itu, mengatakan bahwa pekerja tersebut bernama Siska Atrianti, berusia sekitar 40 tahun, warga Padang Petok, Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Pasaman. Ia menyebut bahwa Siska merupakan janda beranak tiga.
“Anaknya yang paling besar sudah SMP, anaknya yang paling kecil berusia di bawah tiga tahun. Anaknya yang menengah sudah SD. Dia bercerai dengan suaminya saat anaknya yang paling kecil masih bayi,” ujar Silvia kepada Sumbarkita pada Sabtu (22/11).
Silvia menginformasikan bahwa Siska merantau ke Malaysia pada Februari 2025. Siska meninggalkan ketiga anaknya untuk dibesarkan oleh ibunya, yang berusia lebih dari 60 tahun, di rumah.
Sebelum merantau, kata Silvia, Siska merupakan buruh tani, yang mendapatkan upah dengan bekerja di sawah orang. Dengan pekerjaannya itu, kata Silvia, Siska kesulitan memenuhi kebutuhan ketiga anaknya dan ibunya, apalagi ibunya tidak bekerja. Karena itu, kata Silvia, Siska bekerja di Malaysia agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Selama ini, kata Silvia, majikan Siska mengirimkan gaji Siska kepada ibu Siska tiap bulan. Namun, sekitar dua bulan terakhir, kata Silvia, majikan tersebut terlambat 15 hari mengirimkan gaji Siska kepada ibu Siska.
“Ibunya tidak tahu penyebab mengapa majikan Siska terlambat mengirimkan gaji Siska,” kata Silvia, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam YDI Lubuk Sikaping itu.
Perihal penyiksaan Siska oleh majikan, Silvia mengatakan bahwa ibu Siska mendapatkan informasi itu dari TikTok, kemudian dari berita-berita di media massa. Setelah tahu anaknya mendapatkan perlakuan keji, kata Silvia, ibu Siska terus menangis sampai matanya lebam.














