Sebelumnya, anak korban, Anesfa (29), mengungkapkan bahwa kondisi ayahnya belum stabil meski telah menjalani operasi ketiga.
“Kini kondisi ayah masih belum stabil. Baru siap operasi ke-3. Akan ada operasi lanjutan. Sekarang di tubuhnya ada infeksi. Sebab patah tulangnya itu terbuka keluar kulit. Patah di tujuh titik bagian. Sudah dipasang pen di tempat yang patah itu,” ujar Anesfa kepada Sumbarkita pada 7 Juli 2026.
Keluarga Soroti Pertanggungjawaban Basarnas
Sebelum Nuardi meninggal dunia, keluarga mengaku masih menunggu kepastian mengenai bentuk pertanggungjawaban dari Basarnas.
Anesfa mengatakan keluarga hanya meminta Basarnas menanggung seluruh kebutuhan materi korban hingga benar-benar pulih.
“Padahal permintaan kami cuma satu. Tanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan materi sampai sembuh total. Itu bahkan sudah kami sampaikan beberapa hari setelah kecelakaan,” katanya.
Menurutnya, selama hampir satu bulan setelah kejadian, keluarga belum memperoleh kepastian mengenai tindak lanjut permintaan tersebut.
Ia menyebut bantuan yang diterima dari pihak terkait hanya berupa donor dua kantong darah pada hari kejadian, satu unit kipas angin, serta uang Rp250 ribu untuk biaya ambulans menuju RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Sementara itu, biaya perawatan awal ditanggung melalui santunan Jasa Raharja sebesar Rp20 juta, kemudian dilanjutkan menggunakan BPJS Kesehatan. Meski demikian, keluarga masih harus menanggung berbagai kebutuhan harian selama mendampingi korban di rumah sakit.
















