Tidak lama kemudian seorang guru yang rumahnya berada dekat lokasi kejadian mengabarkan bahwa Josua, pelajar SMP Murni Padang, disebut hanyut di Batang Arau dan sedang dicari tim gabungan bersama kepolisian. Seorang guru lainnya kemudian menghubungi Rendi dan menyampaikan bahwa polisi meminta kontak orang tua Josua.
“Karena sudah informasi dari kepolisian, jadi langsung saja saya berikan kontaknya ke pihak kepolisian. Biarlah pihak kepolisian langsung yang memberikan, yang memberitahu orang tuanya karena tidak sanggup rasanya memberitahukan,” ucap Rendi.
Rendi kemudian menuju lokasi kejadian. Saat tiba, ia melihat orang tua Josua sudah berada di tepi pantai dalam kondisi histeris setelah mengetahui anaknya hanyut.
Rendi mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, orang tua Josua baru menghubungi pihak sekolah sekitar pukul 17.20 WIB.
Ia juga menjelaskan bahwa orang tua tidak menerima pemberitahuan melalui grup mengenai perubahan waktu kepulangan menjadi pukul 16.00 WIB karena informasi tersebut disampaikan langsung kepada siswa.
Sekolah tetap bantu keluarga
Meskipun peristiwa tersebut terjadi setelah jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah, kata Rendi, pihaknya tetap membantu keluarga Josua sejak proses pencarian hingga pengurusan administrasi jenazah di RSUP M. Djamil Padang. Saat proses pengurusan jenazah, pihak rumah sakit menyampaikan adanya biaya rumah sakit dan peti jenazah yang harus dibayarkan.
“Perkiraan kalau tidak salah tadi itu total biayanya Rp9 juta lebih,” tutur Rendi.
Melihat besarnya biaya tersebut, pihaknya kemudian menawarkan bantuan karena pihak keluarga disebut tidak mampu menanggung biaya tersebut. Sekolah juga meminta bantuan biaya kepada yayasan, tetapi bantuan tersebut tidak dapat langsung dicairkan pada hari itu. Rendi menyebut bahwa kondisi tersebut sempat menimbulkan kendala dan kesalahpahaman antara pihak keluarga, kepala sekolah, dan rumah sakit terkait proses pemulangan jenazah.















