Menurutnya, pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi memiliki fungsi utama mengalihkan arus kendaraan jarak jauh dari jalan nasional sehingga jalan yang ada dapat lebih dimanfaatkan untuk mobilitas lokal dan pargerakan wisata.
Meski demikian, proyek tersebut menghadapi tantangan berupa persoalan sosial dan adat karena bersinggungan dengan tanah ulayat di Kubang Putiah dan lahan pertanian produktif. Selain itu, terdapat risiko geologi karena trase tol melintasi jalur Sistem Sesar Sumatera yang masih aktif.
Di sisi lain, Timtim menilai reaktivasi jalur kereta api memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan sistem transportasi ketika akses jalan raya terputus akibat bencana.
“Pengalaman galodo dan longsor di Lembah Anai membuktikan tingginya kerentanan jalan nasional, sehingga moda rel menjadi alternatif pemulihan mobilitas meski menghadapi kendala alih fungsi lahan bekas rel,” kata Timtim.
Sementara itu, pembangunan Fly Over Padang Lua disebut dirancang untuk mengurai konflik pergerakan kendaraan di simpang padat yang mempertemukan arus dari Padang Panjang, Malalak, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Riau.
“Tiga proyek ini tidak saling bersaing atau menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam satu kesatuan sistem transportasi yang utuh,” pungkas Timtim.
Ia menambahkan, penyelesaian kemacetan di koridor Padang–Bukittinggi pada akhirnya memerlukan perencanaan terintegrasi berbasis data geospasial yang memperhitungkan kondisi topografi, potensi bencana alam, serta nilai sosial dan budaya masyarakat Minangkabau.
















