Ia menambahkan, sepanjang tahun 2025 pihaknya mencatat 105 kasus campak berdasarkan pemeriksaan klinis. Dari jumlah itu, sebanyak 26 sampel dikirimkan ke laboratorium untuk memastikan diagnosis.
“Dari 26 sampel yang diperiksa itu, ada satu orang positif rubella dan 11 orang positif campak, sedangkan 14 lainnya negatif,” ujarnya.
Weni Fitria Nuzulis, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit campak pada anak karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Menurutnya, gejala awal campak biasanya diawali dengan demam yang disertai munculnya bercak kemerahan pada tubuh anak.
“Untuk anak yang diduga terinfeksi campak biasanya gejalanya hampir sama dengan penyakit demam lainnya. Tetapi pada campak biasanya disertai ruam kemerahan,” kata Weni.
Ia menjelaskan, ruam tersebut umumnya muncul dari area wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Selain itu, campak juga dapat menyebabkan mata menjadi merah. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dapat menyebar dengan cepat di dalam tubuh.
Weni mengatakan komplikasi campak dapat menjadi serius jika virus menyebar ke organ vital.
“Kita khawatirkan nanti bisa sampai ke paru-paru menyebabkan pneumonia, kemudian juga bisa menyebar sampai ke otak,” katanya.
Ia menambahkan penularan campak terjadi melalui percikan ludah saat penderita batuk atau berbicara. Karena itu anak yang terinfeksi sebaiknya dibatasi kontaknya dengan anak lain untuk meminimalkan risiko penularan.















