Tamrin memandang kehadiran Vasco di kancah politik lokal merupakan representasi figur yang cenderung didorong langsung oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.
”Meskipun didukung tokoh sentral Gerindra seperti Andre Rosiade, Vasco dinilai belum memiliki akar legitimasi yang kuat di tengah masyarakat akar rumput Sumatera Barat,” ucap Tamrin.
Tamrin menganalisis bahwa strategi politik Vasco masih sangat bertumpu pada pendekatan populis di media sosial sebagai kreator konten untuk memikat suara generasi milenial. Ia membandingkan gaya tersebut dengan figur Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang juga aktif sebagai pembuat konten di ranah digital. Menurutnya, popularitas digital KDM lahir dari dampak langsung kebijakan konkret yang dirasakan masyarakat bawah sehari-hari.
”Vasco dinilai belum memiliki kedalaman rasa dan pemahaman kebijakan yang benar-benar senapas dengan kebutuhan masyarakat bawah di daerah,” ujar Tamrin.
















