“Saat kain itu dilihat lebih dekat, menantu korban, Safrizal, mengatakan baha kain itu merupakan baju korban,” tutur Japri.
Japri mengatakan bahwa keluarga korban terus mencari korban di sekitar aliran air di Kampung Jua Banyak. Sekitar 50 meter dari aliran air keluarga menemukan korban tergeletak tidur miring ke kanan dalam keadaan meninggal dunia.
“Kepala bagian atas korban berdarah saat ditemukan,” ujar Japri.
Karena tidak membawa alat apa pun dan di lokasi itu tidak ada sinyal ponsel, kata Japri, keluarga korban meminta bantuan kepada warga sekitar untuk mengevakuasi korban dari aliran air itu.
Setelah keluarga korban sampai di permukiman masyarakat, kata Japri, kabar tentang penemuan mayat itu tersebar. Ia menyebut bahwa Kepala Kampung Sungai Liku Atas melaporkan penemuan mayat tersebut ke Polsek Ranah Pesisir dan ke Tim Reaksi Cepat BPBD Posko Ranah Pesisir.
Kemudian, anggota polsek dan personel BPBD setempat serta petugas Puskesmas Balai Selasa, kata Japri, langsung menuju tempat ditemukannya korban tersebut. Dalam perjalanan menuju lokasi, tim gabungan tersebut bertemu dengan warga sekitar yang menandu korban dengan menggunakan kain dan bambu untuk diantarkan ke ambulans. Korban kemudian dibawa dengan ambulans ke rumah korban di Kampung Sungai Liku Atas.
“Dokter jaga IGD puskesmas kemudian mengecek tubuh bagian luar korban. Dari hasil pemeriksaan sementara, ditemukan luka robek pada kepala atas bagian belakang korban yang masih berdarah,” ujar Japri.
Meski demikian, kata Japri, keluarga korban tidak ingin tubuh korban diotopsi karena mereka akan langsung menyelenggarakan jenazah korban. Karena itu, katanya, keluarga korban melalui ahli waris akan membuat surat pernyataan atas pilihan tersebut dan akan menyerahkan surat itu ke Polsek Ranah Pesisir.













