Kabarminang — Wali Kota Pariaman, Yota Balad, secara resmi membuka Festival Qasidah Rebana Klasik tingkat SD/MI se-Kota Pariaman yang digelar di Halaman Kantor Camat Pariaman Selatan, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini diikuti 75 sekolah dasar sebagai upaya melestarikan seni budaya bernuansa islami di kalangan pelajar.
Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyatakan bahwa qasidah rebana klasik merupakan salah satu warisan seni budaya tradisional yang perlu dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sebatas perlombaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana menggali potensi anak-anak di bidang keagamaan.
“Qasidah rebana klasik juga menjadi ajang silaturahmi dan menggali potensi di bidang agama, karena menampilkan lagu-lagu bernuansa islami yang menyampaikan pesan moral dan nilai keagamaan kepada masyarakat melalui lagu,” ujar Yota Balad.
Ia menambahkan, festival tersebut juga sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kota Pariaman melalui program Pariaman RISALAH (Beriman, Saleh, dan Berakhlak), Satu Keluarga Satu Hafidz, Kembali ke Surau, serta Pesantren ASN.
“Kegiatan ini tidak hanya sebatas program tahfidz, magrib mengaji, dan subuh mubaraqah, tetapi juga menghadirkan lagu-lagu bernuansa islami yang sarat dengan nasihat dan perjalanan hidup. Ini diperkenalkan sejak dini kepada peserta didik tingkat SD/MI. Hal ini menjadi sejarah bagi Pemko Pariaman di bawah kepemimpinan Yota Balad–Mulyadi dalam mewujudkan Kota Pariaman sebagai kota cinta rebana,” terangnya.
Yota Balad juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman serta KKG Pariaman Selatan yang telah menginisiasi dan menggelar kegiatan tersebut. Ia menilai dunia pendidikan tidak hanya diisi dengan proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga perlu diimbangi dengan kegiatan seni, olahraga, dan keagamaan.
“Di zaman modern sekarang, jika anak-anak sudah terlibat dalam kegiatan seperti ini, mereka tidak akan terlalu tergantung dengan gawai. Dari anak-anak inilah kita bisa melestarikan qasidah rebana klasik secara berkelanjutan di Kota Pariaman, sekaligus menjaga kebudayaan yang ada di Sumatera Barat, khususnya di Kota Pariaman,” ujarnya.
Kepada para peserta, Yota Balad berpesan agar festival ini dijadikan sebagai ajang untuk menggali potensi dan mempererat silaturahmi antarsekolah.
“Kalau menjadi juara jangan jumawa, tetap rendah hati. Bagi yang belum menang, jangan patah semangat. Jadikan kegagalan sebagai pelecut semangat untuk lomba tahun berikutnya,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Hertati Taher, mengatakan sebanyak 76 satuan pendidikan tingkat SD/MI di Kota Pariaman ambil bagian dalam festival tersebut.
“Festival Qasidah Rebana Klasik ini berlangsung selama tiga hari, mulai 10 hingga 12 Februari 2026,” kata Hertati.
Ketua pelaksana kegiatan, Afdhal Fuady, menjelaskan bahwa festival ini mempertandingkan beberapa kategori, di antaranya vokal, instrumen, dan penampilan. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari Nila Maya Sari, Almapetra, dan Tsamratul Fuady.
“Untuk juara I disediakan hadiah Rp4 juta, juara II Rp3 juta, juara III Rp2 juta. Sementara harapan I Rp1,5 juta, harapan II Rp1 juta, harapan III Rp500 ribu, dan favorit Rp500 ribu. Adapun kategori terbaik vokal, instrumen, dan penampilan masing-masing mendapatkan Rp500 ribu,” imbuhnya.
















