Kabarminang – Sinkhole yang muncul secara tiba-tiba di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota pada Jumat (4/1/2026), membentuk lubang berdiameter lebih dari 10 meter dan berpotensi terus meluas serta semakin dalam.
Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo menjelaskan bahwa sinkhole terjadi akibat kombinasi berbagai faktor geologi. Di antaranya pelarutan batu gamping, erosi material tanah lapuk, serta tingginya curah hujan.
Menurut Wahyu, kondisi geologi Sumatera Barat yang sebagian tersusun atas batuan gamping turut meningkatkan kerentanan terjadinya sinkhole. Selain itu, siklon Senyar yang terjadi pada akhir November 2025 disebut memicu curah hujan tinggi yang mempercepat proses pelarutan dan erosi bawah permukaan.
“Kita ketahui Sumatera Barat memiliki satuan batuan gamping, ditambah curah hujan tinggi akibat siklon Senyar. Pencegahan total sulit dilakukan, namun mitigasi tetap bisa dilakukan melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” kata Wahyu, dilansir dari laman UGM, Senin (12/1).
Ia menegaskan bahwa sinkhole tidak dapat terjadi di semua jenis tanah. Fenomena ini lebih sering muncul di wilayah karst, tanah berongga, atau daerah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan batuan, seperti eksploitasi air tanah berlebihan maupun aktivitas pertambangan.
“Di kawasan karst, air hujan dapat melarutkan batuan dan membentuk rongga bawah tanah. Jika rongga membesar dan tak mampu menopang beban di atasnya, tanah bisa amblas,” jelasnya.
Selain mengubah bentang alam yang semula merupakan kawasan pertanian, sinkhole juga berpotensi merusak ekosistem flora dan fauna sekitar. Wahyu menyebutkan adanya risiko pencemaran air tanah akibat masuknya limbah atau material berbahaya ke dalam rongga bawah tanah. Tak hanya itu, amblesan lanjutan di sekitar lokasi juga masih sangat mungkin terjadi.
Karakter sinkhole yang muncul secara tiba-tiba dinilai mengancam keselamatan jiwa dan dapat merusak infrastruktur, sehingga berdampak pada terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. “
Dampak psikologis seperti kecemasan dan trauma juga tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Wahyu menekankan bahwa penanganan sinkhole tidak cukup hanya dengan menutup lubang. Langkah yang diperlukan meliputi survei geologi dan geofisika untuk mengetahui kedalaman serta struktur rongga bawah tanah, antara lain melalui metode geolistrik, seismik, dan ground penetrating radar (GPR). Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat atau teknik grouting, disertai perbaikan sistem drainase dan rekayasa penguatan struktur tanah.
















