Ia menjelaskan bahwa pengurangan subsidi dalam jangka pendek berpotensi menimbulkan tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi. Namun, ia menilai bahwa dalam jangka panjang kebijakan tersebut dapat menyehatkan perekonomian.
“Dalam jangka pendek kita pasti ada kemunduran atau resesi kecil. Tapi, dalam jangka panjang, kalau subsidi bisa dikurangi bertahap, itu akan lebih baik bagi perekonomian,” katanya.
Endrizal mengibaratkan kondisi tersebut sebagai proses pemulihan yang membutuhkan waktu. Seperti orang berhenti dari ketergantungan, awalnya berat, tapi untuk jangka panjang akan lebih sehat.
Menuturnya, pengalihan anggaran subsidi ke sektor produktif dapat memberikan dampak positif bagi negara dan masyarakat. Ia menyebut bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk program yang lebih tepat sasaran. Meski demikian, ia mengakui penyaluran bantuan langsung masih terkendala akurasi data penerima.
“Ke depan bukan lagi subsidi komoditas, melainkan tambahan pendapatan kepada yang benar-benar membutuhkan. Tapi, ini masih terkendala data yang belum efektif,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku seperti plastik juga dinilai membuka peluang ekonomi baru. Menurutnya, kondisi ini dapat mendorong munculnya alternatif bahan yang lebih efisien.
“Kenaikan plastik bisa memunculkan usaha substitusi, misalnya kembali ke bahan alami seperti daun pisang. Jadi ada sektor yang turun, tapi ada juga yang tumbuh,” ucapnya.
Khusus di Sumbar, ia menilai dampak paling terasa akan dialami sektor UMKM dan pertanian yang sangat bergantung pada BBM dan bahan baku tersebut.
















