Kawasan itu juga menjadi habitat berbagai jenis ikan kerapu berukuran relatif besar. Secara arkeologis, posisi haluan kapal masih dapat diidentifikasi menghadap ke arah barat daya Teluk Mandeh.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi, Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan (ALMBB) BRIN, Ira Dillenia, mengatakan bahwa kedua situs memiliki nilai penting dari sisi sejarah, arkeologi, dan lingkungan.
“Apabila tidak dikelola secara inklusif dan berkelanjutan, yang terancam bukan hanya tinggalan fisiknya, melainkan juga pengetahuan mengenai sejarah maritim Indonesia yang dikandungnya,” ujar Ira sebagaimana dilansir dari situs BRIN.go.id pada Minggu (9/8/2026).
Menurut penelitian tersebut, hilangnya tinggalan itu juga akan mengurangi kesempatan untuk memahami dinamika perdagangan, pelayaran, pemanfaatan sumber daya alam, dan perjuangan masyarakat pesisir di kawasan pantai barat Sumatra pada masa lalu.
Kawasan itu dikenal sebagai salah satu pusat jaringan perdagangan penting di pantai barat Sumatra yang terhubung melalui sejumlah muara sungai sebagai jalur distribusi sumber daya alam dan hasil bumi.
Penelitian kolaboratif tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk penyelamatan kedua situs. Rekomendasi itu mencakup strategi peningkatan ketahanan situs terhadap tekanan sosial, perubahan ekologi, dan dampak perubahan iklim global, termasuk identifikasi risiko serta langkah mitigasi bencana pada masa mendatang.
Pulau Cingkuak dan Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan secara terpadu sebagai daya tarik wisata berbasis pengetahuan dan penggerak ekonomi masyarakat pesisir melalui optimalisasi konsep ekonomi biru.
Pulau Cingkuak berkembang sebagai destinasi wisata bahari sekaligus kawasan cagar budaya. Sementara itu, Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan di Teluk Mandeh memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari Taman Eco Arkeologi Laut atau Marine Eco Archaeological Park yang dapat menjadi model wisata ekoarkeologi maritim.















