Kabarminang – Dunia pers Sumatera Barat diselimuti duka di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Dalam rentang waktu dua hari, dua jurnalis senior yang dikenal luas di kalangan pers meninggal dunia, meninggalkan kesedihan bagi rekan seprofesi dan komunitas wartawan, khususnya di wilayah Piaman dan Kota Padang.
Kabar pertama datang dari wafatnya Andi, jurnalis Metro TV, pada Rabu (25/2/2026). Almarhum dikenal sebagai sosok wartawan lapangan yang vokal, solidaritasnya tinggi terhadap sesama jurnalis, serta aktif memperjuangkan marwah profesi di berbagai momentum advokasi pers.
Belum reda rasa kehilangan tersebut, dunia pers kembali diguncang kabar duka atas meninggalnya Perdana Putra, wartawan Kompas, pada Kamis (26/2/2026). Jurnalis yang akrab disapa Pepe itu diketahui telah lama berjuang melawan penyakit yang dideritanya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Ketua Aliansi Jurnalis Piaman, Eki Rafki, mengatakan wafatnya dua jurnalis tersebut menjadi pukulan berat bagi insan pers di Sumatera Barat.
“Kami kehilangan dua sosok penting dalam waktu yang sangat berdekatan. Bang Andi dan Bang Pepe bukan hanya wartawan, tapi juga sahabat perjuangan yang selama ini ikut menjaga integritas profesi jurnalistik,” ujar Eki Rafki kepada Sumbarkita, Kamis 926/2).
Menurutnya, kedua almarhum dikenal memiliki semangat solidaritas tinggi serta menjadi rujukan bagi wartawan muda dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik di lapangan.
Senada dengan itu, Ketua Aliansi Jurnalis Investigasi Piaman, Dori Fedriwel, menyebut kepergian keduanya meninggalkan ruang kosong dalam ekosistem pers daerah.
“Bang Pepe dan Bang Andi adalah bagian dari sejarah perjalanan jurnalistik di Sumatera Barat. Mereka bukan hanya menulis berita, tetapi ikut membentuk karakter jurnalisme yang kritis dan berani,” kata Dori.
















