“Tetangga bertanya kepada pelaku untuk apa pisau itu. Kata pelaku, dia akan membuka jendela dengan pisau untuk masuk rumah itu sebab pintu dikunci dengan gembok. Tetangga lalu bertanya mengapa pelaku tidak menjemput kunci rumah ke sungai tempat ibu saya mencuci. Kata pelaku, jaraknya jauh. Padahal, dia bisa menggunakan sepeda motor untuk menjemput kunci tersebut. Itulah yang membuat tetangga curiga kepada pelaku,” ujar RN.
Setelah pelaku masuk melalui jendela, kata RN, tetangga tersebut memantau pelaku dari luar dengan cara menguping. Saat itu tetangga mendengar pelaku berkata kepada korban dengan bahasa Mandailing, “Mengapa kamu buka celanamu? Bodoh kamu.”
Karena mendengar perkataan pelaku, kata RN, tetangga tersebut memberi tahu seorang nenek yang punya warung dekat kontrakan itu. Kedua perempuan itu lantas mengintip ke dalam rumah dari jendela tempat pelaku masuk.
“Saat itu mereka melihat pelaku meraba-raba tubuh adik saya. Mereka melihat celana adik saya sudah turun sampai lutut,” ucap RN.
Setelah melihat hal itu, kata RN, nenek tersebut menggedor-gedor jendela dan menyuruh pelaku keluar dari rumah. Karena pelaku tak kunjung keluar, nenek terus menggedor jendela sampai jendela tersebut rusak.
“Sekitar sepuluh menit setelah nenek menggedor jendela, barulah pelaku keluar melalui jendela itu. Dia lalu pergi ke rumah orang tuanya yang berada di seberang jalan rumah kontrakan ibu saya,” ujar RN.
RN menceritakan bahwa informasi tentang dugaan pencabulan itu menyebar dengan cepat kepada orang-orang di sekitar kontrakan. Ia pun mendapatkan informasi tersebut dari salah satu kerabatnya. Ia lalu menuju kontrakan ibunya dari tempat tinggalnya di Kuamang Ujung Gading dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.
Setibanya di kontrakan ibunya, kata RN, sudah ramai orang di sana membahas masalah dugaan pencabulan tersebut.





















