Kabarminang – Suasana berbeda terasa di Lapas Kelas IIB Pariaman, Kamis (5/3/2026) sore. Ratusan keluarga warga binaan memadati lapangan serta ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan itu untuk menghadiri agenda buka puasa bersama yang digelar pihak lapas.
Sejak menjelang sore, para pengunjung mulai berdatangan. Orang tua, istri, hingga anak-anak terlihat mengantre memasuki area kunjungan.
Beberapa anak kecil tampak berlari kecil saat melihat ayah mereka dari kejauhan, sementara sebagian keluarga duduk berkelompok menunggu waktu berbuka tiba.
Momentum ini menghadirkan suasana yang berbeda dibanding hari-hari biasa. Jika biasanya pertemuan berlangsung singkat dalam jadwal kunjungan terbatas, pada kegiatan ini warga binaan dapat duduk bersama keluarga mereka di lapangan maupun ruang kunjungan sambil menunggu waktu berbuka.
Percakapan sederhana terdengar di berbagai sudut. Ada yang menanyakan kabar kampung, perkembangan sekolah anak, hingga kondisi keluarga di rumah. Beberapa warga binaan tampak memeluk anaknya erat, seolah melepas rindu yang selama ini tertahan.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Lapas Pariaman, Yoshua Sosolsolon Sagala, mengatakan kegiatan buka bersama ini digelar sebagai bagian dari pembinaan yang menekankan pentingnya hubungan keluarga bagi warga binaan.
“Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk mempererat kembali hubungan emosional antara warga binaan dan keluarga mereka. Dukungan keluarga sangat penting dalam proses pembinaan,” kata Yoshua kepada Sumbarkita.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut terbuka bagi keluarga warga binaan yang ingin datang. Pihak lapas tidak memberlakukan pembatasan jumlah anggota keluarga yang berkunjung.
“Siapa saja dari keluarga yang ingin datang dipersilakan. Kami tidak membatasi. Alhamdulillah antusiasme sangat tinggi, sehingga ratusan pengunjung hadir memadati lapangan dan ruang kunjungan,” ujarnya.
Menjelang waktu berbuka, suasana perlahan menjadi hening ketika doa bersama dipanjatkan.
Tak lama kemudian, azan magrib berkumandang dan ratusan orang yang berkumpul bersama keluarga mereka serentak membatalkan puasa.
Bagi sebagian warga binaan, momen itu bukan sekadar makan bersama. Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, buka puasa tersebut menjadi ruang kecil tempat rindu keluarga bertemu kembali, menguatkan harapan bahwa suatu hari nanti mereka akan pulang sebagai pribadi yang lebih baik.















