Kabarminang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 telah menimbulkan korban jiwa dan pengungsian dalam jumlah besar.
Berdasarkan data resmi BNPB yang diperbarui pada Sabtu (27/12/2025) dan dikutip pukul 19.20 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.138 jiwa, sementara 163 orang dinyatakan hilang.
Selain itu, total pengungsi mencapai sekitar 449 ribu jiwa, tersebar di 52 kabupaten/kota di berbagai provinsi di Sumatera. Data tersebut menggambarkan besarnya dampak kemanusiaan akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam rekapitulasi BNPB, wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia tertinggi tercatat di Aceh Utara sebanyak 212 jiwa, disusul Agam (192 jiwa), Tapanuli Tengah (127 jiwa), serta Aceh Tamiang dan Tapanuli Selatan yang masing-masing mencatat 88 korban meninggal.
Sementara itu, dari sisi pengungsian, Aceh Utara menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai sekitar 166,9 ribu jiwa. Posisi berikutnya ditempati Aceh Tamiang dengan 150,5 ribu pengungsi, disusul Gayo Lues (33,8 ribu jiwa) dan Aceh Timur (20,5 ribu jiwa).
BNPB juga mencatat dampak kerusakan yang cukup signifikan terhadap permukiman warga. Total rumah terdampak mencapai 171.379 unit, dengan rincian 53.058 rumah rusak berat, 43.743 rusak sedang, dan 74.578 rusak ringan.
Selain permukiman, kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik. Tercatat 215 fasilitas kesehatan (puskesmas) rusak, 3.188 fasilitas pendidikan terdampak, 806 rumah ibadah, 98 jembatan, serta 101 ruas jalan mengalami kerusakan akibat bencana.
BNPB menyatakan proses penanganan darurat, pendataan lanjutan, serta penyaluran bantuan kemanusiaan masih terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait, terutama di wilayah dengan jumlah korban jiwa dan pengungsi yang tinggi.
















