Salah satu anggota Silotigo, Boy Nistil, menjelaskan penggunaan limbah sebagai medium karya merupakan pilihan sadar untuk memberi makna baru pada benda-benda yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Material tersebut menjadi simbol jejak konsumsi sekaligus kerusakan lingkungan yang ditinggalkan manusia.
Selama tujuh hari pameran, Silotigo juga menggelar live painting di halaman Ruang Temu Nan Tumpah. Selain itu, mereka turut diminta membuat sampul visual lagu berjudul “Kelana” sebagai bagian dari rangkaian program KRNT #10.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Anton, Ketua RT 4, menilai kehadiran aktivitas seni memberi dampak positif bagi kebersamaan warga.
“Kami mendukung kegiatan ini. Harapannya bisa memperkuat kekompakan dan rasa peduli antarwarga,” ujarnya.
Selain pameran Silotigo, KRNT #10 juga menampilkan Zona (Ny)Aman Seni, yakni presentasi hasil belajar program Kelana Akhir Pekan. Sebanyak 56 anak mengikuti kelas seni selama satu semester, mulai dari silek, seni rupa, musik, tari, teater, hingga menulis kreatif. Karya mereka dipentaskan dan dipamerkan, termasuk peluncuran buku fiksi siswa.
Sejumlah komunitas turut berpartisipasi, di antaranya Bandar Kertas Buram, Sanggar Museum Parang Sintuak, Komunitas Kiraiku Nan Jombang, Obe jo Gogo, dan Komunitas Laguna Nusantara. Rangkaian acara juga mencakup tur pameran, pelatihan kriya berbahan limbah, peluncuran lagu, serta pemutaran film.
Pada akhirnya, KRNT #10 menegaskan bahwa krisis ekologis tidak hanya berbicara soal data dan kebijakan, tetapi juga ingatan, rasa, dan cara masyarakat memahami lingkungannya. Dalam konteks ini, seni menjadi medium untuk merawat kesadaran bersama—bahwa banjir yang berulang adalah peringatan atas relasi manusia dengan alam yang perlu ditinjau ulang.
















