Kabarminang — Sebanyak 20 narapidana beragama Islam di berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Sumatera Barat (Sumbar) mendapatkan remisi khusus Idulfitri. Remisi itu diberikan di lapas dan rutan masing-masing narapidana pada Sabtu (21/3/2026), bertepatan dengan Lebaran versi pemerintah.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Sumbar, Kunrat Kasmiri, mengatakan bahwa 20 narapidana itu langsung bebas setelah mendapatkan remisi khusus Idulfitri. Ia menerangkan bahwa mereka langsung bebas karena mendapatkan remisi khusus II. Remisi khusus II adalah remisi yang diberikan kepada narapidana yang masa pidananya jika dikurangkan, ia bebas pada tanggal Idulfitri tersebut.
“Remisi khusus diberikan kepada narapidana saat hari raya keagamaan. Remisi khusus Idulfitri diberikan kepada narapidana beragama Islam, yang telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif, di antaranya harus berkelakuan baik, telah menjalani pidana minimal tiga bulan, dan aktif mengikuti program pembinaan di lapas atau rutan,” tutur Kunrat.
Kunrat menyampaikan bahwa remisi khusus merupakan wujud negara hadir dengan memberikan penghargaan atas segala pencapaian positif bagi narapidana yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Remisi yang diberikan, kata Kunrat, bervariasi, yaitu 15 hari, 1 bulan, dan 1 bulan 15 hari.
Kunrat menginformasikan bahwa dari 20 narapidana itu, 2 orang berada di Lapas Kelas IIA Bukittinggi (kasus penggelapan dan pencurian), 1 orang di LPKA Kelas II Payakumbuh (kasus narkotika) , 3 orang di Lapas Kelas III Talu (kasus penadahan dan narkotika), 1 orang di Rutan Kelas IIA Lubuk Sikaping (kasus pelanggaran lalu lintas), 3 orang di Lapas Kelas III Dharmasraya (kasus pencurian dan penadahan), 3 orang di Lapas Kelas IIB Pariaman (kasus pencurian dan penggelapan), 2 orang di Lapas Kelas IIB Lubuk Basung (kasus narkotika dan pencurian), 1 orang di Rutan Kelas IIB Padang Panjang (kasus narkotika), 1 orang di Rutan Kelas IIB Sawahlunto (kasus pencurian), 1 orang di Rutan Kelas IIB Padang (kasus pencurian), dan 2 orang di Lapas Kelas IIB Muara Sijunjung (kasus pembakaran dan penggelapan).
Dalam pemberian remisi itu, Kunrat menyampaikan pesan Dirjen Pemasyarakatan, Mashudi, bahwa pemberian remisi bagi narapidana merupakan bentuk penghormatan serta penghargaan narapidana yang telah menunjukkan perubahan sikap yang baik, berperan aktif dalam mengikuti program binaan, dan dinilai memiliki tingkat risiko yang menurun. Penghargaan itu diberikan tidak hanya sebagai apresiasi, tetapi juga sebagai dorongan agar proses reintegrasi sosial dapat berlangsung lebih optimal.
“Dalam paradigma pemidanaan saat ini, pemasyarakatan bukanlah alat pembalasan, melainkan sebagai media pembinaan untuk menuntun narapidana untuk menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan mampu kembali berkontribusi positif di masyarakat,” ucapnya.














