Laporan awal diterima dari seorang anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sikabau pada Minggu (27/4) dini hari. Operasi pencarian pun dilakukan selama enam hari oleh tim gabungan, menyisir aliran sungai sepanjang enam kilometer.
Akhirnya, pada Jumat (2/5) pukul 14.00 WIB, tim SAR menemukan potongan kaki yang diidentifikasi sebagai milik korban. Pihak keluarga dan tenaga medis membenarkan identitas potongan tubuh tersebut. Operasi pencarian kemudian dihentikan.
Atas dua insiden ini, BPBD Pasaman Barat mengimbau masyarakat, terutama yang bermukim atau beraktivitas di sekitar sungai dan wilayah pesisir, agar lebih berhati-hati.
“Perlu diketahui, bulan Maret hingga April adalah masa kawin dan bertelur bagi buaya. Pada periode ini, predator air tersebut menjadi sangat agresif terhadap gangguan di sekitarnya,” ujar Zulkarnain.
Pihak BPBD juga meminta warga untuk tidak beraktivitas sendirian di daerah rawan serangan buaya dan segera melapor jika melihat tanda-tanda kemunculan satwa liar tersebut.















