“Selain saya, istri, anak-anak, menantu, dan cucu saya kembali untuk membersihkan rumah,” ujarnya.
Pantauan Sumbarkita di lokasi, lumpur masih menutupi sebagian besar ruangan rumah. Sejumlah kursi dan meja berserakan, lemari roboh, kasur terendam, serta berbagai perlengkapan rumah tangga tampak rusak akibat banjir.
Ardian juga mengaku selama banjir berlangsung hingga air mulai surut, tidak ada petugas yang datang untuk melakukan evakuasi maupun menyalurkan bantuan logistik.
“Selama banjir sampai hari ini tidak ada petugas BPBD dan SAR yang datang membantu evakuasi, termasuk bantuan logistik tidak ada sama sekali. Mungkin karena posisi rumah masuk ke dalam, tidak berada di tepi jalan,” tuturnya.
Ardian mengatakan mulai tinggal di kawasan tersebut sejak 2013. Menurutnya, banjir mulai terjadi di lingkungan itu sejak 2016 dan kembali berulang pada 2023, 2024, 2025, hingga 2026. Dari seluruh kejadian tersebut, banjir yang terjadi pada Senin menjadi yang terbesar yang pernah dialaminya.
“Luapan air ini besar karena bertemunya luapan air dari arah hulu dan air pasang. Kalau luapan air kecil tidak bakal separah ini,” katanya.
Ia menilai karakter banjir kali ini juga berbeda dibandingkan kejadian sebelumnya karena datang lebih cepat dan terjadi pada siang hari.
“Biasanya banjir terjadi malam hari. Yang kemarin terjadi siang. Luapan air sungai lebih cepat dari banjir yang biasanya terjadi. Baru lima belas menit setelah air mulai tergenang langsung membesar. Kalau dulu air baru sampai setinggi teras masih bisa santai,” ujarnya.
















