“Yang mengungsi itu istri, anak-anak, menantu, dan cucu saya ke rumah keluarga yang tidak terdampak. Sedangkan saya masih bertahan di rumah sendiri dan mencari tempat yang tinggi supaya tidak tenggelam,” katanya.
Ia kemudian naik ke sebuah loteng sederhana yang berada di dekat dapur rumah. Sebelum naik, Ardian sempat membawa sedikit makanan dan sambal sebagai bekal selama bertahan di tengah genangan.
“Saya bertahan di dekat dapur. Di sana ada tempat seperti loteng dari papan. Sebelum saya ke sana saya sempat membawa sedikit sambal dan makanan untuk bertahan dari genangan air dan gelap,” ujarnya.
Ardian mengaku hampir seluruh isi rumah tidak dapat diselamatkan karena terendam banjir.
“Semua sudah tenggelam. Kursi, lemari, kasur, pakaian, dan perlengkapan rumah lainnya tidak ada lagi yang selamat,” tuturnya.
Ia mengatakan air tidak kunjung surut sejak siang hingga dini hari. Genangan baru mulai surut sekitar pukul 05.00 WIB pada Selasa dan berangsur mengering sekitar pukul 10.00 WIB.
“Tadi sekitar pukul 05.00 WIB baru mulai surut. Puncaknya sudah mulai mengering walaupun masih basah sekitar pukul 10.00 WIB tadi,” katanya.
Setelah kondisi memungkinkan, Ardian turun dari loteng dan kembali ke rumah bersama anggota keluarganya untuk membersihkan sisa lumpur dan membereskan barang-barang yang rusak.
















