Ia mengaku, warga setempat mematok biaya parkir motor senilai Rp60.000. Motor tersebut dititipkan kurang lebih selama satu minggu.
Ia menjelaskan, di lokasi itu berlaku sistem bagi hasil, yakni 70 persen untuk pemilik tambang, 20 persen untuk pemilik alat berat, dan 10 persen untuk pemilik tanah. Sementara itu, dirinya dan warga lainnya yang ikut mendulang emas secara manual hanya memperoleh sisa material dari bekas galian alat berat.
Ia melanjutkan, dalam kondisi tertentu, para pendulang terkadang mendapat jatah sekitar dua hingga tiga sekop material hasil galian ekskavator untuk diperebutkan bersama pendulang lainnya.
“Pendulang hanya dapat bekas hasil galian mesin, atau dikasih dua-tiga sekop untuk diperebutkan bersama,” ungkapnya.
Bertani Tak Lagi Menjanjikan
Sementara itu, warga lain yang enggan disebutkan namanya dan sebelumnya bekerja sebagai petani bawang di daerah itu juga ikut mendulang emas. Ia menyebut faktor ekonomi menjadi alasan utama sebagian warga memilih bekerja di kawasan tambang. Hasil mendulang emas dinilai lebih menjanjikan dibandingkan pekerjaan lain yang tersedia di daerah itu.
Ia menyebut, bertani kini membutuhkan biaya besar, sementara hasil pertanian menghadapi risiko gagal panen akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Meskipun berhasil, harga jual sering kali terlalu jauh dari ekspektasi, tak jarang juga rugi, belum lagi ancaman gagal panen dengan cuaca seperti sekarang yang jarang hujan,” tuturnya.



















