Kabarminang — Ada yang keliru dalam pemberitaan tentang mahasiswa Politeknik Negeri Padang yang ditemukan tewas tergantung di kamar kosannya di kawasan Jawa Gadut, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sabtu (11/4/2026). Awalnya disebut bahwa ia orang Dharmasraya. Namun, belakangan diketahui bahwa ia orang Solok Selatan.
“Dia orang Solok Selatan. Informasi awal yang mengatakan ,” kata Kepala Polsek Pauh, AKP Edi Harto, mengklarifikasi informasi yang ia berikan sebelumnya. Dalam keterangan tertulis yang ia kirimkan sebelumnya kepada media massa, termasuk kepada Kabarminang.com, mahasiswa berinisial FDA (23 tahun) itu berasal dari Dharmasraya.
Saat ditanya alamat detail mahasiswa tersebut sesuai dengan KTP-nya, Edi belum bisa memberikannya. Saat dihubungi Kabarminang.com pukul 19.56 WIB, ia mengatakan bahwa ia sedang menyerahkan jenazah mahasiswa itu kepada keluarga korban yang datang dari Solok Selatan.
Kabarminang.com kemudian mendapatkan informasi bahwa mahasiswa itu merupakan warga Bangun Rejo. Bangun Rejo merupakan nama kampung di Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir, Solok Selatan. Kabarminang.com lalu mencari nomor kepala jorong setempat dan berhasil mendapatkannya.
Kepala Jorong Pincuran Tujuh, Roni Pratama (28 tahun), mengatakan bahwa FDA merupakan warganya. Ia menyebut bahwa FDA sehari-hari dipanggil Ifeb atau Febri.
“Bangun Rejo itu nama lama kampung ini. Di Bangun Rejo ada tiga jorong, salah satunya Pincuran Tujuh. Febri warga jorong Pincuran Tujuh,” ujar Roni kepada Kabarminang.com melalui sambungan telepon.
Roni mengatakan bahwa sebagaimana mayoritas warga Bangun Rejo, FDA merupakan orang Jawa. Ia menyebut bahwa FDA merupakan anak kedua dari orang tuanya.
“Dia dua bersaudara. Kakaknya laki-laki, sudah menikah. Rumah orang tuanya dihuni oleh empat orang: ayah, ibu, kakak, dan kakak ipar Febri,” tutur Roni.














