“Beberapa daerah perlu diwaspadai, terutama Padang, Pesisir Selatan, Painan, dan Padang Pariaman,” katanya.
BMKG juga membandingkan karakteristik hujan yang terjadi saat ini dengan hujan pada akhir November 2025 yang memicu berbagai bencana di sejumlah wilayah Sumatera Barat. Menurut Yudha, hujan pada akhir November tahun lalu berlangsung dalam durasi yang jauh lebih panjang.
Sementara itu, hujan yang terjadi saat ini diperkirakan memiliki durasi yang lebih singkat.
“Karakteristik hujan ini lebih satu atau dua hari,” ujarnya.
Meski demikian, BMKG tetap memantau perkembangan cuaca karena potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Yudha menambahkan bahwa Sumatera Barat memiliki karakteristik cuaca yang berbeda dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia. Menurutnya, wilayah tersebut tidak mengalami musim kemarau yang benar-benar kering sepanjang tahun.
Ia menjelaskan bahwa puncak musim hujan di Sumatera Barat umumnya terjadi pada Maret, April, November, dan Desember. Namun, peluang terjadinya hujan berintensitas tinggi tetap ada pada bulan-bulan lainnya.
“Potensi kejadian hujan dengan intensitas tinggi hampir selalu ada setiap bulan,” katanya.
BMKG saat ini juga masih mengumpulkan data untuk memastikan apakah hujan yang terjadi termasuk salah satu yang terlebat selama 2026. Berdasarkan data sementara, curah hujan di salah satu titik pemantauan telah mencapai sekitar 250 milimeter.
















