Di lokasi terdampak, tim juga menemukan endapan aliran bahan rombakan yang mengandung bongkah andesit serta bongkah material endapan aliran piroklastik berukuran sekitar 2 hingga 3 meter.
Bongkah tersebut tertanam dalam matriks dengan ukuran material mulai dari pasir kasar hingga lempung. Campuran ukuran butir yang tidak seragam dan keberadaan bongkah berukuran besar menunjukkan sistem aliran di lokasi tersebut memiliki atau pernah memiliki kemampuan mengangkut material berukuran sangat besar.
Selain itu, ditemukan endapan aluvium dengan fragmen andesit membundar berukuran sekitar 50 hingga 200 sentimeter. Di bagian paling atas terdapat tanah pelapukan berwarna merah kecokelatan yang juga mengandung fragmen andesit.
Oktory menjelaskan kondisi geologi di sekitar Arosuka didominasi produk vulkanik Gunungapi Talang dan batuan gunungapi yang lebih tua. Material vulkanik seperti tuf, lahar, koluvium, endapan piroklastik dan aluvial dapat menjadi sumber sedimen yang mudah mengalami pelapukan, erosi maupun pergerakan ketika dipengaruhi hujan berintensitas tinggi.
Sejumlah Alur Sungai Bertemu
Dari sisi hidrologi, sejumlah lembah pada lereng barat Gunungapi Talang berkembang menjadi beberapa alur sebelum kembali berkonsentrasi menjadi lembah utama.
Kondisi tersebut memungkinkan debit air, sedimen, bongkah batuan, kayu dan material rombakan dari beberapa daerah tangkapan air bertemu pada bagian hilir.
Jika hujan berintensitas tinggi terjadi secara bersamaan di kawasan hulu, debit dari beberapa anak sungai dapat tiba di bagian hilir dalam waktu yang berdekatan. Akibatnya, debit sesaat dan kemampuan aliran mengangkut material dapat meningkat secara signifikan.
Dampak galodo tersebut tercatat cukup luas. Dalam pembaruan laporan per 28 September 2026 pukul 18.45 WIB, sebanyak dua orang meninggal dunia dan satu orang masih dalam pencarian.


















