Oktory menjelaskan, rangkaian bencana diduga bermula dari longsoran di bagian hulu lembah akibat tingginya curah hujan. Material tanah, batuan vulkanik, bongkah andesit dan material rombakan lainnya kemudian bergerak menuruni lereng dan masuk ke alur sungai.
Material tersebut kemudian terbawa aliran air dan terakumulasi di bagian tengah lembah, terutama di lokasi pertemuan dua lembah utama.
“Material longsoran tersebut diduga terakumulasi dan membentuk bendungan alam yang kemudian membendung aliran sungai untuk sementara,” ujarnya.
Bendungan alam itu, lanjut Oktory, dapat menyebabkan air tertahan di bagian hulu. Seiring meningkatnya debit, tekanan air dan rembesan pada material bendungan dapat bertambah hingga material tersebut mengalami penggerusan, pelimpasan atau keruntuhan.
Ketika bendungan alam runtuh, air yang tertahan dapat dilepaskan secara tiba-tiba sekaligus memobilisasi material longsoran dan sedimen yang telah terakumulasi di bagian hulu.
Campuran air, tanah, pasir, bongkah batuan dan kayu kemudian bergerak mengikuti lembah menuju bagian hilir dengan energi tinggi. Saat memasuki kawasan yang lebih terbuka di Arosuka, aliran menyebar dan mengendapkan material dalam jumlah besar.
Bukti Bendungan Alam Masih Dikaji
Meski demikian, Oktory menegaskan bahwa keberadaan bendungan alam serta proses keruntuhannya masih perlu diperkuat dengan bukti lapangan.
Badan Geologi memerlukan indikasi seperti bekas timbunan yang melintang sungai, perubahan morfologi alur maupun endapan yang menunjukkan pernah terjadi pengosongan genangan secara mendadak untuk memastikan mekanisme tersebut.


















