Kabarminang – Mayoritas wilayah di Kecamatan Mapat Tunggul, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, hingga kini masih kesulitan mengakses jaringan telekomunikasi. Sejumlah nagari dan jorong belum terjangkau jaringan seluler maupun internet, sehingga menghambat aktivitas komunikasi dan akses informasi masyarakat.
Berdasarkan pantauan langsung Sumbarkita di lapangan, kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Nagari Pintu Padang, Muara Tais, Muara Tais Koto Gadang, hingga Lubuk Gadang. Bahkan, kesulitan sinyal juga ditemukan di beberapa titik di Jorong Guo Siayuang yang merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Mapat Tunggul.
Di Nagari Pintu Padang, misalnya, warga Jorong Koto Sawah dan Jorong Malancar belum dapat menikmati akses internet. Sinyal seluler hanya bisa diperoleh di titik-titik tertentu di kawasan hutan, dengan ketersediaan jaringan yang sangat bergantung pada pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Ketergantungan terhadap listrik menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat. Pemadaman kerap terjadi secara tiba-tiba akibat gangguan alam, seperti pohon tumbang yang menimpa kabel listrik maupun bencana longsor. Sementara itu, di pusat Nagari Pintu Padang, jaringan seluler hanya tersedia ketika aliran listrik menyala.
Kondisi serupa terjadi di Nagari Muara Tais yang berada di jalur perbatasan menuju Provinsi Riau. Sejumlah jorong, seperti Muara Tais, Kampung Tengah, Benai, Rumbai, dan Sei Belut, belum terjangkau jaringan telekomunikasi.
Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, sebagian warga mengandalkan layanan Wi-Fi berbasis voucher berbayar yang tersedia di sejumlah warung. Namun, fasilitas tersebut masih terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat, terutama warga yang tinggal jauh dari lokasi penyedia layanan.
Persoalan serupa juga dialami warga Nagari Muara Tais Koto Gadang, meliputi Jorong Kubu Baru, Sibintayan, dan Soma. Belum tersedianya menara pemancar sinyal maupun infrastruktur pendukung lainnya membuat warga kesulitan mengakses informasi dari luar daerah.
Didi Arya (23), warga Jorong Kubu Baru yang juga mahasiswa, mengatakan masyarakat di kampungnya harus menempuh perjalanan ke kawasan perbukitan untuk mendapatkan sinyal telepon maupun internet.


















