“Di kampung kami sama sekali belum ada jaringan telepon maupun internet, kalau mau dapat sinyal kami harus naik ke bukit yang posisinya jauh dari rumah,” ujar Didi kepada Sumbarkita, Selasa (27/10/2026).
Menurut Didi, kondisi tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan pembangunan infrastruktur digital antara wilayah pedalaman dan daerah lain. Ia mengaku kecewa karena persoalan akses telekomunikasi di kampungnya belum mendapatkan penanganan yang dirasakan masyarakat.
“Kami merasa pemerintah seperti tidak peduli dengan kondisi daerah kami yang tertinggal jauh dibanding wilayah lain,” tambah Didi.
Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Padang, Didi merasakan langsung perbedaan akses informasi antara tempatnya berkuliah dan kampung halaman. Keterbatasan jaringan, menurutnya, membuat komunikasi dan pemenuhan kebutuhan informasi menjadi lebih sulit.
“Sebagai mahasiswa yang kuliah di luar daerah, saya sangat merasakan betapa tertinggalnya kampung kami karena urusan komunikasi saja sangat sulit,” tegas Didi.
Kesulitan jaringan juga melanda Nagari Lubuk Gadang, terutama di Jorong Marapan dan Jorong Lubuk Gadang. Gangguan akses sinyal turut ditemukan di sejumlah titik di Jorong Guo Siayuang, yang menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Mapat Tunggul. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan blank spot di Kecamatan Mapat Tunggul tidak hanya terjadi di wilayah permukiman terpencil, tetapi juga menyentuh kawasan pusat kecamatan.
Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera memprioritaskan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut. Ketersediaan jaringan seluler dan internet dinilai penting untuk mendukung komunikasi, pendidikan, serta akses informasi masyarakat di daerah pedalaman.
Hingga saat ini, belum terdapat keterangan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai rencana penanganan wilayah blank spot di Kecamatan Mapat Tunggul.


















