Kabarminang – Badan Geologi mengungkap dugaan rangkaian proses yang menyebabkan banjir bandang atau galodo menerjang kawasan Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 21 September 2026.
Kepala Tim Kerja Gerakan Tanah di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Oktory Prambada, mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan bencana tersebut berkaitan dengan kondisi lereng hulu Gunungapi Talang, hujan berintensitas tinggi, longsoran, hingga terkonsentrasinya aliran air dan material rombakan menuju kawasan Arosuka.
“Mekanisme banjir bandang di Arosuka melibatkan rangkaian proses longsor di hulu, pembentukan bendungan alam pada pertemuan dua lembah, dan pelepasan aliran akibat keruntuhan bendungan tersebut,” kata Oktory, Senin (5/10).
Menurutnya, kawasan terdampak berada di sisi barat Gunungapi Talang dengan kondisi geomorfologi berupa perbukitan hingga pegunungan vulkanik. Lereng bagian hulu relatif terjal, sementara lembah sungai mengalami pengikisan yang cukup dalam.
Perbedaan elevasi dari daerah hulu hingga kawasan terdampak mencapai sekitar 1.325 meter. Kondisi tersebut memberikan potensi energi gravitasi yang besar bagi air, sedimen, dan material rombakan untuk bergerak dari wilayah yang lebih tinggi menuju kawasan Arosuka.
Bentuk lembah di lokasi penyelidikan juga menyerupai huruf V. Kondisi itu menunjukkan dominannya proses pengikisan vertikal dan memungkinkan aliran air serta material longsoran terkonsentrasi dalam satu jalur ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Diduga Berawal dari Longsoran
Galodo menerjang kawasan Arosuka pada 21 September 2026 sekitar pukul 19.30 WIB setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kabupaten Solok dan sekitarnya.
Material yang terbawa berupa lumpur, pasir, batu, kayu, dan material rombakan lainnya. Aliran tersebut kemudian menerjang permukiman, kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok, fasilitas umum hingga ruas jalan penghubung Solok–Padang.


















